Lirik Lagu

masuk ke Lirik dan Chord Lagu untuk mencari informasi tentang lirik dan chord lagu-lagu rohani .

Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

Kutai Lama


Kutai Lama : Asal Kata Kutai...

Mahakam adalah saksi sejarah yang tertua, Airnya yang mengalir dari hulu ke hilir, berputar-putar di setiap lekukan teluk, berdesir melewati celah-celah tebing, seakan nyanyian alam yang tak pernah berhenti menyanyikan lagu-lagu zaman.

Kerajaan Kutai yang berdiri tahun 1320 tidak akan pernah tertulis dalam catatan sejarah, seandainya dahulu tidak ada seorang Raja Kutai Lama "Aji Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa ing Martapura" (1730-1732) dan mungkin pula kata "Kutai" tidak pernah ada, andaikan jauh sebelum itu tidak ada sebuah kapal Cina yang terdampar ke sana. Mereka singgah untuk menjahit layar yang dirobek-robek badai. Sampai-sampai gunung disitu dinamakan Gunung Jahitan Layar.

Laksamana Chen Pie yang memimpin ekspedisi pelayaran, merasa kapalnya telah berada jauh dari muara, lalu menyebut tempat yang disinggahinya dengan nama "Kho Thei" atau tempat yang jauh di pedalaman. Kata ini berproses dari mulut ke mulut, untuk kemudian lidah rakyat setempat lebih pas mengucapkannya dengan kata Kutai. Dari sinilah cikal bakal Kutai yang kita kenal.

Saturday, February 12, 2011

Erau

Sejarah Erau
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.

Sejarah Kota Bontang

Sejarah Kota Bontang

Sejarah Kota Bontang

Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang.

Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang.

Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat

Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administra*tif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai.

Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekatdalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh.

Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sul*tan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timurdengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.

Pada 21 Januari 1960, berdasarkan UU No 27 Tahun 1959 , dalam Sidang istimewa DPRD Istimewa Kutai, Kesultanan Kutai dihapuskan dan sebagai gantinya dibentuk Kabupaten Daerah Tk II Kutai yang meliputi 30 kecamatan. Salah satu kecamatan itu adalah Bontang yang berkedudukan di Bontang Baru, meliputi beberapa desa, yaitu Desa Bontang, Santan Ulu, Santan Ilir, Santan Tengah, Tanjung Laut, Sepaso, Tabayan Lembab, Tepian Langsat, dan Keraitan.

Bontang kemudian mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal itu mulai terlihat pada 1975, yang disebabkan karena dijadikannya Bontang sebagai daerah industri. Pada 1974 berdiri PT Badak yang mengelola industri gas alam. Tiga tahun kemudian, 1977, menyusul berdirinya PT Pupuk Kaltim yang mengelola industri pupuk dan amoniak.

Dengan kemajuan yang begitu pesat karena adanya pembangunan sarana dan prasarana yang berskala nasional, bahkan internasional, Pemerintah Daerah mempertimbangkan peningkatan status Bontang dari Kecamatan menjadi Kota Administratif yaitu melalui Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 1989. Dengan demikian dibentuklah wilayah kerja Pembantu Bupati Kepala Daerah Tk II Kutai Wilayah Pantai Kecamatan Bontang akhirnya diusulkan Gubernur Kaltim untuk ditingkatkan menjadi Kota Administratif (Kotif).

Pada 1989, dengan PP No. 22 Tahun 1988 Kecamatan Bontang disetujui menjadi Kota Admin-istratif dan diresmikan pada 1990 dengan membawahi Kecamatan Bontang Utara (terdiri dari Bontang Baru, Bontang Kuala, Belimbing, Lok Tuan) dan Selatan (Sekambing, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Satimpo, dan Tanjung Laut). Pada 12 Oktober 1999, Kotif kemudian berubah menjadi Kota Otonom, berdasarkan Undang Undang No 47 Tahun 1999.

Guna melaksanakan tugas kepemerintahan saat itu ditunjuk Drs Ishak Karim sebagai Walikota Kotif Bontang yang pertama. Sebagai perkembangan dari Daerah Tk II Kabupaten Kutai, maka melalui Undang*Undang No 47 Tahun 1999 tentang pemkatkan menjadi Kota Bontang. Sebagai pelaksana tugas ditunjuk Drs Fachmurniddin yang melaksa*nakan tugas kepemerintahan dan pelaksanaan persiapan pemilihan walikota definitif.

Sebelumnya juga telah dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang oleh Walikota melalui penetapan calon yang diajukan oleh masing-masing partai berdasarkan perolehan kursi pada Pemilu 1999. Setelah persyaratan anggota dewan terpenuhi, maka ditetapkan dan dilantik para anggota dewan yang terdiri dari 25 orang dengan ketua H Rusdin Abdau.

Walikota Bontang pertama dari pemilihan anggota dewan itu adalah dr H Andi Sofyan Hasdam, SpS dari Partai Golkar dan H Adam Malik sebagai Wakil Walikota yang berasal dari PPP. Mereka dilantik dan diambil sumpah jabatan pada 1 Maret 2000

Teluk Selili

Teluk Selili

Bukit Selili yang membujur dari barat ke timur merupakan saksi sejarah. Bukit itu dari dulu sampai sekarang menyaksikan rentetan demi rentetan peristiwa yang terjadi di sekitar Samarinda.

Jauh sebelum Samarinda berdiri, tanah yang waktu itu masih berupa hutan diserahkan oleh pemiliknya Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa Ing Martapura kepada sekelompok pendatang dari Bugis Wajo pimpinan La Mohang Daeng Mangkoma. Pangeran memerintahkan kaum pendatang tersebut mencari tanah permukiman yang terletak di tepi sungai, diantara dua dataran yang sama rendah (kata Sama-rendah ini diperkirakan asal nama Samarinda). Salah satu daerah yang di tempati sebagai pemukiman yaitu daerah Selili.

Bukit Selili yang berketinggian seratus meter, ujungnya menjorok membentuk teluk. Punggung bukit dan teluk bagaikan tembok abadi yang melindungi Samarinda dari pandangan orang-orang yang datang dari arah hilir.

Air Teluk Selili tak pernah berhenti berputar. Arus mempermainkan berbagai jenis sampah yang datang dari hulu. Kemudian melemparkannya ke balik teluk, lalu menghilir menuju Muara Jawa dan seterusnya berpencar dipukul ombak Selat Makasar.

Penduduk yang ada di sekitar teluk sering mendayung perahu mereka untuk memunguti kayu-kayu hanyut yang datang dari pedalaman. Pekerjaan semacam itu dilakukan turun menurun dan sekaligus merupakan panorama suatu tkehidupan.

Muara Kaman

Muara Kaman

MUARA KAMAN

Muara Kaman terletak di kanan mudik Mahakam. Sejarah telah mencatat, bahwa kota ini pernah menjadi pusat kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Rajanya bernama Maharaja Kudungga.

Tidak diketahui dengan jelas, dimana tepatnya istana itu berada. Dugaan sementara dari kebanyakan orang mengatakan, bahwa Mulawarnam putera Kudungga beristana di seberang sungai yang lebarnya tak lebih dari seratus meter. Di sebuah tempat yang kini telah menjadi rawa, di situlah kira-kira istana berada. Bahkan kalung Uncal dan kalung Wisnu yang dipakai setiap kali raja Kutai dinobatkan, ditemukan di tempat itu.

Di Muara Kaman kota yang tingginya tidak lebih dari empat meter di atas permukaan sungai di kala pasang, membuat arus Mahakam sering naik ke daratan. Karena itu penduduk lebih senang bertempat tinggal di rumah-rumah panggung. Di sanalah mereka bergerombol dalam satu jumlah yang besar.

Sekilas Sejarah Kal-tim


Sekilas Sejarah Kalimantan Timur

Berikut ini sekilas sejarah mengenai Kalimantan Timur..

Kalimantan Timur sepertinya ditakdirkan menjadi pelopor peradaban di Indonesia. Sejarah membuktikan hal itu karena di wilayah ini ditemukan kerajaan tertua di Indonesia yaitu Kerajaan Mulawarmawan yang terletak di Muara Kaman. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad IV Masehi dengan raja yang terkena Mulawarman Nala Dewa . Kekuasaan keturunan Raja Mulawarwan berlanjut hingga raja ke-25 yang bernama Maharaja Derma Setia (Abad XIII M).

Menjelang kekuasaan Dinasti Mulawarman mulai pudar, wilayah Kaltim telah berdiri beberapa Kerajaan. Dimulai dari Kerajaan Kutai Kertanegara di Jaetan Layar (sekarang masuk wilayah Kutai Lama), berdiri juga Kerajaan Gunung Tabur dan Kerajaan Sambaliung (Kabupaten Berau), Kerajaan Tanjung Palas (Kabupaten Bulungan), serta Kerajaan Sandurangas (Kab. Pasir).

Kerajaan-kerajaan tersebut menjalankan pemerintahan di wilayah masing-masing dan sejarah tidak mencatat adanya sengketa serius antara kerajaan tersebut hingga masuknya orang-orang Belanda yang menjajah Kaltim sejak tahun 1844.

Pemerintah Kolonial Belanda membentuk Federasi Kalimantan Timur yang merupakan gabungan empat kerajaan di Kalimantan Timur. Ketika Republik Indonesia berdiri di 17 Agustus 1945, Federasi Kalimantan Timur secara hukum masuk wilayah Republik Indonesia dan rakyat Kaltim juga memilih bergabung dengan RI.

Pada masa perjuangan fisik (1945-1949), rakyat Kaltim turut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Puncak perjuangan terjadi dengan Peristiwa "Sangasanga" (Januari 1947) yang dikenal dengan peristiwa merah putih.

Setelah mengalami masa-masa perubahan sistem pemerintahan, dari bentuk Kerajaan menjadi Daerah Istimewa (1956) dan akhirnya menjadi Provinsi (Januari 1957) yang terdiri dari 4 Kabupaten (Kutai, Berau, Bulungan, Pasir) ditambah 2 Kotapraja (Kotapraja Samarinda, Balikpapan)

Asal muasal kota samarinda

Asal Muasal Kota Samarinda

Awal mula berdirinya Samarinda

Perjanjian Bungaya

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut Kompeni menyerang Makassar dari laut, sedangkan Arung Palakka yang mendapat bantuan dari Belanda karena ingin melepaskan Bone dari penjajahan Sultan Hasanuddin (raja Gowa) menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.

Kedatangan orang Bugis ke Kesultanan Kutai

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Rumah Rakit

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda.

Penetapan hari jadi kota Samarinda


Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980.
21 Januari 1668/5 Sya'ban 1070 H : Kedatangan orang-orang suku Bugis Wajo mendirikan pemukiman di muara Karang Mumus.

Berdirinya Pemerintahan Kota Samarinda
Pemerintah Kotamadya Dati II Samarinda dan Kotapraja
Dibentuk dan didirikan pada tanggal 21 Januari 1960, berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953, Lembaran Negara No. 97 Tahun 1953 tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II Kabupaten/kotamadya di Kalimantan Timur
Semula Kodya Dati II Samarinda terbagi dalam 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir, dan Samarinda Seberang. Kemudian dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Timur No. 18/SK/TH-Pem/1969 dan SK No. 55/TH-Pem/SK/1969, terhitung sejak tanggal 1 Maret 1969, wilayah administratif Kodya Dati II Samarinda ditambah dengan 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja. Saat ini Samarinda terdiri dari 6 kecamatan, tidak termasuk Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja, ketiganya masuk dalam Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setelah PP No. 38 Tahun 1996 terbit, wilayah administrasi Kodya Dati II Samarinda mengalami pemekaran, semula terdiri dari 4 kecamatan menjadi 6 kecamatan, yaitu:
• Kecamatan Samarinda Ilir dengan 13 kelurahan,
• Kecamatan Samarinda Utara dengan 6 kelurahan,
• Kecamatan Samarinda Ulu dengan 8 kelurahan,
• Kecamatan Samarinda Seberang dengan 8 kelurahan
• Kecamatan Sungai Kunjang dengan 7 kelurahan, dan
• Kecamatan Palaran dengan 5 kelurahan.
Rencananya kecamatan dan kelurahan tersebut akan dimekarkan kembali.
Berdasarkan Perda Kota Samarinda No. 1 Tahun 1988, tanggal 21 Januari 1988, ditetapkan Hari Jadi Kota Samarinda adalah tanggal 21 Januari 1668. Penetapan ini bertepatan dengan Peringatan Hari Jadi Kota Samarinda ke-320.[1]

Geografi
Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat diantara 0°21'18"-1°09'16" LS dan 116°15'16"-117°24'16" BT.

Batas-batas wilayah
• Utara : Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara
• Selatan : Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara
• Timur : Kecamatan Muara Badak, Anggana, dan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara.
• Barat : Kecamatan Tenggarong Seberang dan Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Topografi
Topografi Samarinda meliputi tanah datar dan berbukit di ketinggian antara 10 s.d. 200 m di atas permukaan laut.

Sejarah Kota Tarakan

Sejarah Kota Tarakan

Sejarah Kota Tarakan

Kota Tarakan berdasarkan cerita rakyat berasal dari bahasa Tidung kuno yakni dari kata Tarak dan Ngakan, dalam bahasa Tidung Tarak mempunyai arti bertemu sedangkan Ngakan berarti Makan. Kata ngakan merupakan indikasi bahwa para nelayan dulu sering berisitirahat dan makan dipulau ini, yang menjadi tempat pertemuan para nelayan disekitar pulau ini seperti dari daerah Salim batu, tana lia, Pulau bunyu, Sesayap, Sembakung dan lain lain. Tarakan juga sebagai tempat bermuaranya tiga sungai besar diutara Kalimantan Timur seperti sungai Sesayap/Malinau, Sungai Kayan, dan Sungai Sembakung.
Tarakan juga disebut dengan istilah Tengkayu yang dari bahasa Tidungnya berarti daerah yang dikelilingi oleh laut atau Pesisir.

Pulau seluas 241,5 KM yang sebagian besar masih merupakan hutan lindung terutama dipesisir pantai wilayah selatan. Kondisi ini merupakan panorama alam yang indah antara hutan lindung, bukit, hutan konservasi, kelong nelayan, perkebunan, pantai dan peninggalan sejarah berupa tugu jepang dan tugu ostrali.

Menurut sejarah Tarakan pernah menjadi lokasi pertempuran sengit perang dunia ke 2 antara tentara jepang dengan tentara ostrali. Sebanyak 235 tentara ostrali tewas pada pertempuran itu. Di kota Tarakan masih terdapat banyak tugu peringatan tentara ostrali di lokasi yang sekarang menjadi sebuah kompleks militer. Tugu peringatan ini dibangun untuk mengenang tentara ostrali yang tewas dalam upaya membebaskan Tarakan dari pendudukan jepang. Dilokasi lainnya terdapat kuburan tentara jepang yang berada dibekas bunker jepang dikawasan perbukitan .

Obyek wisata di kota Tarakan antara lain Pantai Amal yang berjarak 11 KM dari pusat kota. Pantai ini memiliki panorama nyiur melambai dengan pemandangan yang cukup indah dan letaknya di kecamatan Tarakan Timur. Setiap dua taon sekali di Pantai Amal ini akan diselenggarakan Pesta Adat Tidung yakni "IRAW TENGKAYU".

Asal Usul
Suku Kaum Tidung atau Tidong (Malaysia) sebenarnya berasal dari kata "Tideng" yang artinya "Gunung". Mengikut pergeseran zaman berubahlah kata Tideng tersebut menjadi Tidung. Kita bisa melihat keaslian nama tersebut pada nama sebuah daerah dipinggiran Sungai Sesayap yakni sebuah daerah yang bernama "Tideng Pale" atau lebih dikenal dengan nama TIDUNG PALA. Tideng Pale adalah ibukota kecamatan Sesayap Ulu masuk dalam wilayah Kabupaten Bulungan dan sebentar lagi akan diresmikan menjadi Ibukota Kabupaten Tana Tidung. Kata Tideng Pale berasal dari Bahasa Tidung yang artinya "Gunung Hambar" artinya daerah tersebut terdapat Gunung yang dibawahnya mengalir Sungai sesayap yang apabila pada musim Kemarau adalah merupakan perbatasan antara air Tawar dan air Asin/Laut.

Friday, February 11, 2011

Sejarah terbentuknya kabupaten Nunukan

Sejarah terbentuknya kabupaten Nunukan

Sejarah terbentuknya kabupaten Nunukan

Kabupaten Nunukan adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Nunukan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 109.527 jiwa (2004). Motto Kabupaten Nunukan adalah "Penekindidebaya" yang artinya "Membangun Daerah" yang berasal dari bahasa suku Tidung. Nunukan juga adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

Pada tahun 2003 terjadi tragedi kemanusiaan besar-besaran di Nunukan ketika para pekerja gelap asal Indonesia yang bekerja di Malaysia dideportasi kembali ke Indonesia lewat Nunukan.

Pelabuhan Nunukan merupakan pelabuhan lintas dengan kota Tawau, Malaysia. Bagi penduduk kota Nunukan yang hendak pergi ke Tawau diperlkan dokumen PLB (Pas Lintas Batas). Setiap hari rata-rata sekitar 8 unit kapal cepat dengan kapasitas kurang lebih 100 orang mondar-mandir antar Nunukan dengan Tawau Malaysia.

Di Kota Tawau sendiri banyak sekali orang Indonesia (baik WNI/ atau warga Malaysia) yang berasal dari Indonesia terutama dari suku bangsa Bugis Bone.

Sejarah terbentuknya kabupaten
Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pemekaran Kabupaten bulungan ini di pelopori oleh RA Besing yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bulungan.

Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah dengan didasari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Nah, dgn dasar inilah dilakukan pemekaran pada Kabupaten Bulungan menjadi 2 kabupaten baru lainnya yaitu Kabupaten Nunukan dan kabupaten Malinau.

Pemekaran Kabupaten ini secara hukum diatur dalam UU Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Bontang pada tanggal 4 Oktober 1999. Dan dengan dasar UU Nomor 47 tahun 1999 tersebut Nunukan Resmi menjadi Kabupaten dengan dibantu 5 wilayah administratif yakni Kecamatan Lumbis, Sembakung, Nunukan, Sebatik dan Krayan.

Pemekaran kabupaten
Pada tanggal 17 Juli 2007, dalam Sidang Paripurna DPR RI telah disetujui pembentukan kabupaten baru yaitu Kabupaten Tana Tidung, yang merupakan pemekaran dari wilayah Nunukan dan Bulungan. Dari Nunukan, kecamatan Sembakung dipindahkan menjadi wilayah kabupaten baru tersebut, sedangkan dari Bulungan, dipindahkan tiga kecamatan, yaitu Sesayap, Sesayap Hilir dan Tanah Lia.

Pejabat Kabupaten
Seiring dengan pembentukan ini dilakukan pulah pelantikan pejabat Bupati Nunukan yaitu Drs. Bustaman Arham, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta. Setelah pelantikan Bupati Nunukan, dilakukan persiapan penataan perangkat daerah dan pembentukan Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) juga disiapkan.

Tanggal 25 Desember 1999, dilantik 14 orang pejabat pada eselon II, III, IV untuk mengisi jabatan struktural. Tiga hari setelah pelantikan jabatan struktural tepatnya tanggal 28 Desember 1999 dilanjutkan dengan pelantikan 20 orang anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nunukan hasil Pemilihan Umum tahun 1999. Para Legislator tersebut berasal dari Partai Golkar, PDIP, PPP dan PAN.

Pemilihan Bupati
Meskipun masih dihadapkan berbagai hambatan infrastruktur dan suprastruktur, pemerintahan di Kabupaten Nunukan sudah mulai berjalan secara normal. Kesempatan ini dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk melakukan pemilihan bupati definitif melalui sidang paripurnah DPRD. Tepatnya pada tanggal 11 April 2001.

Pada kesempatan tersebut muncul 3 pasangan calon, antara lain Pasangan Drs.H. Bustaman Arham – H. Ali Karim, Drs.H. Aseng Gusti Nuch – H. Arsyad Talib, SE serta H. Abdul Hafid Ahmad – Drs. Kasmir Foret, MM. Dari 3 pasangan yang maju tersebut, terpilihlah pasangan H. Abdul Hafid Ahmad – Drs. Kasmir Foret, MM sebagai bupati dan Wakil Bupati Nunukan Periode 2001 – 2006. Dan Pasangan ini di lantik pada tanggal 30 Mei 2001.

Sejarah Kota Samarinda

Sejarah Kota Samarinda

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan " PERJANJIAN BONGAJA" pada tanggal 18 Nopember 1667.



Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan "SAMARINDA".

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H" penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980

Sejarah Kita Berawal dari Kutai

Sejarah Kita Berawal dari Kutai

PERIODE awal sejarah ditetapkan berdasarkan sumber data tekstual paling tua. Bagi sejarah Indonesia, sejumlah prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, merupakan sumber data tekstual tertua yang pernah ditemukan. Kampung Muara Kaman terletak di pertemuan Sungai Mahakam, dengan salah satu anak sungainya, yakni Sungai Kedang Rantau.

PERJALANAN menuju kampung tersebut bisa ditempuh dengan kendaraan darat maupun dengan kapal menyusuri Sungai Mahakam, mulai dari Samarinda yang berjarak sekitar 110 kilometer ke arah hulu Mahakam.

Meski tidak berangka tahun, secara paleografis, aksara Pallawa dalam prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman itu diperkirakan berasal dari permulaan abad V atau sekitar tahun 400 Masehi.

Artinya, di Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang terletak di pedalaman Sungai Mahakam itu merupakan tempat bermulanya zaman sejarah bagi negara Indonesia.

Dari berbagai temuan di Kalimantan Timur, ada berbagai komunitas budaya dengan peradaban yang cukup tinggi. Bahkan, komunitas budaya ini sebenarnya sudah muncul di kawasan ini sejak ribuan tahun lalu.

Misalnya yang sangat menarik adalah temuan goa-goa di Kalimantan Timur. Goa yang menjadi tempat tinggal manusia masa lalu ini dilengkapi dengan hiasan-hiasan atau lukisan purbakala pada dindingnya.

Kekayaan masa lalu ini ditemukan Tim Ekspedisi Kalimantanthrope dalam penjelajahannya yang berakhir 20 Juni 2001. Mereka menemukan lukisan pada dinding-dinding goa di kawasan Gunung Marang, sekitar 400 kilometer utara Balikpapan, beserta pecahan-pecahan perkakas tembikar dan sejumlah makam.

Temuan-temuan itu diduga berasal dari masa prasejarah dan diperkirakan telah berusia 10.000 tahun. Sebuah tradisi kuno yang sangat menarik, yang mungkin sama sekali tidak dilanjutkan pada negara yang saat ini ada, sekalipun sudah melewati perjalanan sejarah yang sangat panjang.

BUKTI-bukti tersebut setidaknya menunjukkan bahwa pada masa lalunya, Kalimantan "lebih maju" dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Penggalian di lokasi situs sejarah Kerajaan Kutai di Muara Kaman juga menemukan berbagai artefak, seperti sisa-sisa atau reruntuhan candi berupa peripih, manik-manik, gerabah, patung perunggu, dan keramik yang sangat indah.

Hal itu membuktikan nenek moyang orang Kutai pada masanya sudah berperadaban sangat maju. Peradaban Kutai masa lalu inilah yang menjadi tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.

Dalam salah satu prasasti Yupa disebutkan, pada masa Kerajaan Kutai Martapura ada persembahan emas yang sangat banyak, juga persembahan sapi yang mencapai 20.000 ekor jumlahnya.

Bisa jadi hal tersebut juga menunjukkan betapa makmurnya masyarakat Kutai waktu itu. Ternyata, kondisi masa lalu itu berbanding terbalik dengan masa sekarang.

Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanegara, sekarang ini sangat jauh tertinggal, khususnya jika dibandingkan dengan daerah lain, sebut saja daerah di Pulau Jawa. Paling mudah dilihat adalah bidang yang menyangkut infrastruktur transportasi. Ini terbukti dengan masih banyaknya daerah yang sulit dijangkau transportasi.

Demikian pula dengan angka kemiskinan masih sangat tinggi. Seharusnya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, warga Kutai Kartanegara bisa makmur sejahtera. Tidak seperti sekarang, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APDB) sebesar Rp 2,9 triliun, angka kemiskinan masih begitu tinggi.

KABUPATEN Kutai Kartanegara hanya berpenduduk sekitar 460.000 jiwa. Namun, dengan APBD sebesar itu, kabupaten tersebut ternyata memiliki 54.836 jiwa yang masih miskin atau sekitar 12 persen dari jumlah penduduknya. Bahkan, APBD tersebut lebih besar dibandingkan dengan APBD Provinsi Jawa Tengah yang sebesar Rp 2 triliun, tetapi jumlah penduduknya 31 juta orang.

Jika dibandingkan dengan angka kemiskinan kabupaten atau kota lain di Kalimantan Timur, Kutai Kartanegara merupakan penyumbang terbesar penduduk miskin atau sekitar 19 persen dari total penduduk miskin di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 290.000 orang.

Tidak ada salahnya pejabat Kutai Kartanegara belajar dari nenek moyang mereka, warga Kutai Martapura abad V yang lalu. Hal itu bisa diawali dengan mengkaji peninggalan budaya nenek moyang mereka yang mencapai kejayaan pada masa Raja Mulawarman. Raja Mulawarman digambarkan dalam prasasti Yupa yang didirikan para brahmana itu sebagai raja yang mulia dan berperadaban baik.

Tidak seperti sekarang, contohnya dalam eksploitasi kekayaan alam terlihat dilakukan secara semena-mena, bahkan terkesan mengorbankan rakyat sendiri. Seperti yang dialami warga Desa Kertabuana, Kecamatan Tenggarong Seberang, yang kehilangan sawah mereka akibat penambangan batu bara. Bahkan, bendungan irigasi pun kalau perlu dibatalkan pembangunannya untuk tambang batu bara, seperti bendungan di Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Penggalian batu bara secara terbuka itu menyisakan lubang- lubang dan kolam raksasa, menimbulkan kerusakan parah yang bisa menimbulkan bencana lingkungan. Sejarah berawal di Kutai, semoga tidak berakhir di Kutai.

Wednesday, February 2, 2011

Sebatik

Pulau Sebatik adalah sebuah pulau di sebelah timur laut Kalimantan.
Sebatik adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Indonesia. Sebatik merupakan pintu perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia.

Pulau ini secara administratif dibagi menjadi dua bagian. Merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Pulau ini meskipun jauh dari Ibukota propinsi Kalimantan Timur, namun masyarakatnya tetap memiliki jiwa nasionalisme yang kokoh dan tetap menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan menggunakan mata uang rupiah seperti pada propinsi yang lain di Indonesia.
(actual_nya ketika gw disana, umum_nya banyak yang menggunakan mata uang RM)

Sebatik adalah salah satu tempat di mana terjadi pertempuran hebat antara pasukan Indonesia dan Malaysia saat terjadinya "Konfrontasi".
Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai "boneka" Britania.

Seperti terlihat pada peta buta, di sebelah barat pulau ini terdapat Pulau Nunukan, sedangkan di seberang utara terdapat Kota Tawau, yang sudah berada di negara bagian Sabah, Malaysia.

Tuesday, February 1, 2011

Sanga-sanga

SANGA-SANGA

Sanga-Sanga, sebuah kota kecamatan di daerah Samarinda yang terletak di ujung anak sungai. Kota di atas kandungan minyak ini bukan saja dihiasi oleh menara-menara pemboran, tapi lebih dari itu terkenal juga sebagai kota perjuangan. Tahun 1947, kaum pejuang berhasil merebut Sanga-Sanga dari kekuasaan NICA.

Sanga-Sanga, cuma sebuah kota kecil. Ia merupakan satu diantara tujuh kecamatan di wilayah Kotamadya Samarinda. Pendudukanya paling sedikit dan bermukim di enam desa. Itulah kota pertama di Kalimantan Timur yang berhasil dibebaskan kaum republik dari kesewenang-wenangan Belanda. Setelah Sanga-Sanga muncul tiga kota lainnya : Balikpapan, Samarinda, Semboja.

Di Sepanjang tepi sungai yang lebarnya sekitar tujuh puluh meter, kita masih bisa melihat menara-menara pemboran. Menara itu berdiri kokoh selama puluhan tahun. Tidak sedikit pohon di sekitar menara itu yang tumbang ditelan ketuaan. Namun menara-menara itu tetap ada disana untuk mengalirkan minyak ke dalam pipa-pipa yang menuju Balikpapan.

Kadang-kadang kita melihat ratusan ekor kera duduk dan bergelantungan di menara itu tanpa merasa ketakutan setiap kali melihat dan mendengar bunyi mesin kapal yang lalu-lalang.

Jika engkau ke kota kecil ini, engkau bisa melihat bangunan yang didirikan sekitar awal abad dua puluh oleh perusahaan minyak BelandaBataafsche Petroleum Maatshappij. Gaya arsitek seluruh bangunan di kota Sanga-Sanga, sama seperti gaya bangunan di kota-kota yang pernah dijadikan pusat pertambangan seperti, Loa Kulu, Balikpapan, Tarakan, dan Semboja

Tuesday, January 11, 2011

Danau Lipan

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.

Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.

Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.

Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.

Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."

Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.

Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.

Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.

Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.

Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.

Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.

Asal usul lain kota Balikpapan

Hikayat Lainnya Tentang Asal Usul Balikpapan


1. Versi Pertama ( Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724 )

Menurut legenda asal nama Balikpapan adalah karena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai lama. Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai. Setibanya di Kutai lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul disuatu tempat yang sekarang bernama "Jenebora". Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai "Baliklah - papan itu" atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).

2. Versi Kedua ( Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan )

Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama "Negeri Balikpapan". Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama " KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN ". Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama "KULENG - PAPAN" atau artinya "BALIK - PAPAN" (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527.

3. Dalam legenda lain juga disebutkan asal usul Kota Balikpapan, yaitu dari seorang putri yang dilepas oleh ayahnya seorang raja yang tidak ingin putrinya tersebut jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita diikat diatas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata terdapat seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri tersebut bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah tempat ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan.

Hari jadi kota Balikpapan ditentukan pada tanggal 10 Februari 1897. Penetapan tanggal ini merupakan Seminar Sejarah Kota Balikpapan pada tanggal 1 Desember 1984. Tanggal 10 Februari 1897 ini adalah tanggal Pemboran pertama minyak di Balikpapan yang dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari pasal-pasal kerjasama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.[2]

Pesut Mahakam 1

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Kecuali di sungai Mahakam, di tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan ratusan kilometer dari lautan yakni di wilayah kecamatan Kota Bangun, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai di perairan Sungai Mahakam, danau Jempang (15.000 Ha), danau Semayang (13.000 Ha) dan danau Melintang (11.000Ha).

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh Pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar.

Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan 'pakar' dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas perairan sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.

Legenda Naga Penyebab Banjir

Legenda Naga Penyebab Banjir

Ada suatu legenda tentang empat orang kakak beradik sekandung yang datang dari lautan untuk bertapa di perbukitan Balikpapan (tapi gak tau bukit yang mana0. Tiga orang menjelma menjadi naga besar yang konon melingkari perbukitan. Seorang lainnya bertapa n berdiri tegak dan menjelma menjadi pohon.

Ketiga naga itu bertapa selama masa yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Jika waktu bertapa selesai dan masing-masing naga akan pergi, tanda alam yang terjadi adalah hujan sangat deras(kalo ujan deres artinya naganya pergi).

Leluhur warga Balikpapan masih memercayai cerita tersebut. Mereka sangat khawatir apabila hujan turun tiada henti dengan jumlah curah hujan yang besar merupakan pertanda ada naga yang selesai bertapa.

Pertanda pertama dikaitkan dengan longsor dan banjir pada 1978. Itulah waktu naga pertama selesai bertapa. Menurut cerita, naga menuju laut dengan melintasi kawasan Pasar Baru. Setelah hujan reda dan banjir kering, endapan lumpur di jalanan memperlihatkan motif naga.

Naga kedua konon selesai bertapa pada 1985 (pas aku lahir dong...rugi gak liat...). Waktu itu, hujan lebat mengakibatkan banjir dan tanah longsor di perbukitan perumahan Pertamina. Saluran besar pembuangan air pecah dan menimpa perumahan penduduk di bawahnya.

Setelah hujan reda, masyarakat berbenah. Saat itu warga menemukan bentuk meliuk seperti jalan ular di jalanan kompleks yang menembus pagar kawat yang menuju laut.

Seekor naga masih tetap bertapa sampai sekarang. Naga itu dipercaya sebagai yang terbesar. Apabila terjadi hujan lebat tiada henti, mungkin saat itu naga selesai bertapa.

Naga itu menurut cerita menampakkan diri meski hanya bagian mata saja. Sebab naga mulai tidak senang dengan kehidupan warga Balikpapan. Berkaitan dengan itu, dari kejauhan di laut, pelaut sering melihat titik merah seperti api. Konon itu mata sang naga. Namun, sebenarnya titik merah itu adalah api cerobong kilang Pertamina.

Banjir besar terakhir kali terjadi pertengahan 2006. Ratusan rumah nyaris tenggelam, masyarakat nyaris terisolasi, dan lalu lintas macet total. Penyebab banjir adalah hujan tiada henti selama tiga hari sehingga Sungai Ampal meluap sementara saluran air sudah rusak.

Mungkin naga terakhir sudah kembali ke laut. Semoga saja demikian sehingga di masa mendatang tidak banjir lagi. Namun, siapa tahu legenda naga dan banjir ternyata salah ato sapa tau naganya balik lagi ke bukit.

Mungkin saja tidak hanya tiga naga yang bertapa tetapi seratus atau seribu bahkan. Kalau demikian, mungkin masih akan lama Balikpapan bebas banjir jika disesuaikan dengan legenda legenda.

Wednesday, January 5, 2011

Lembuswana 1

“Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?”
Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan Musium Mulawarman. Jawabannya memang sudah pasti “Lembuswana”, spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar Appendix I Cites ini dapat anda jumpai di 3 (tiga) lokasi utama Kota Tenggarong, di Pintu Gerbang memasuki kota Tenggarong, di depan Musium Mulawarman dan yang terbesar di Pulau Wisata Kumala.

Monday, January 3, 2011

Asal mula kota Balikpapan

Asal Mula Kota Balikpapan - Kalimantan Timur

Kota Balikpapan sebenarnya cuma sebuah kotamadya, tapi kota Balikpapan lebih ramai daripada ibukota Kalimantan Timur ato kota Samarinda. Sarana dan prasarana kota Balikpapan lebih lengkap, seperti Bandar udara, pelabuhan dan hotel-hotel bertaraf internasional. Sehingga orang-orang di luar Kalimantan Timur lebih mengenal Balikpapan daripada Samarinda(katanya sih). Kota ini memang lebih dulu dikenal jauh sebelum Samarinda berkembang seperti sekarang(katanya juga).

Balikpapan adalah kota perusahaan minyak bumi, sumber devisa bagi Kalimantan Timur, atau sebuah kota Pertamina sejak tahun 1889. pada saat itu pemerintahan dipimpin Sultan Kutai Kartanegara ke-17, Sulan Am Sulaiman.

Menurut cerita rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat, konon pada tahun 1783 di tanah Pasir sudah berlangsung sistem pemerintahan kerajaan yang teratur, rakyat hidup berkecukupan. Kekuasaan Raja meliputi daerah yang sangat luas sampai kebagian selatan. Daerah itu berupa sebuah teluk yang indah dan mengandung hasil bumi dengan hasil laut yang cukup besar. Masyarakat yang bermukim di sepanjang teluk hidup sebagai petani dan nelayan. Mereka hidup dalam suasana yang damai dan makmur. Sultan yang memerintah pada waktu itu adalah Aji Muhammad. Sebuah nama yang melambangkan kebesaran dan kesucian jiwa pemiliknya.

Aji Muhammad mempunyai seorang putri bernama Aji Tatin. Setelah dewasa, Aji Tatin menikah dengan seorang bangsawan Raja Kutai. Untuk masa depannya, Aji Tatin menuntut warisan kepada ayahnya. Aji Muhammad pun menyerahkan wilayah teluk, saat itu belum menjadi sebuah kota dan belum memiliki nama.

Pada suatu hari, orang-orang kepercayaan Aji Tatin sedang memungut upeti dari rakyat berupa papan dengan menggunakan perahu.

Ketika mereka sedang mendayung perahu menggunakan tanggar (galah) yang disebut tokong, tiba-tiba datanglah angin topan dahsyat.

Perahu Aji Tatin terbalik diterpa badai. Para pendayung berusaha membawa perahu mereka merapat ke pantai, namun tidak berdaya karena diserang topan dan gelombang ganas. Tidak berapa lama, perahu pun terhempas ke sebuah pulau karang. Tokong (galah) pendayung patah dan perahu yang sarat muatan papan itu karam.

Pemimpinnya, Panglima Sendong dan anak buahnya meninggal.

Demikian asal usul nama Balikpapan yang diambil dari peristiwa perahu berisi papan yang terbalik diterpa badai.

Pulau karang penyebab malapetaka itu akhirnya makin besar dan menjadi sebuah pulau yang ditumbuhi pohon-pohon. Pulau itu dinamakan Pulau Tukung sampai sekarang.

Sunday, January 2, 2011

Nama-nama raja Kutai

Nama-Nama Raja Kutai

1. Maharaja Kudungga
2. Maharaja Asmawarman
3. Maharaja Irwansyah
4. Maharaja Sri Aswawarman
5. Maharaja Marawijaya Warman
6. Maharaja Gajayana Warman
7. Maharaja Tungga Warman
8. Maharaja Jayanaga Warman
9. Maharaja Nalasinga Warman
10. Maharaja Nala Parana Tungga
11. Maharaja Gadingga Warman Dewa
12. Maharaja Indra Warman Dewa
13. Maharaja Sangga Warman Dewa
14. Maharaja Singsingamangaraja XXI
15. Maharaja Candrawarman
16. Maharaja Prabu Nefi Suriagus
17. Maharaja Ahmad Ridho Darmawan
18. Maharaja Riski Subhana
19. Maharaja Sri Langka Dewa
20. Maharaja Guna Parana Dewa
21. Maharaja Wijaya Warman
22. Maharaja Indra Mulya
23. Maharaja Sri Aji Dewa
24. Maharaja Mulia Putera
25. Maharaja Nala Pandita
26. Maharaja Indra Paruta Dewa
27. Maharaja Dharma Setia